Kamis, 15 Desember 2011

Our New Comer

Alhamdulillah, syukur banget Nakke bisa ngeblog lagi,hehe...itu juga karena dapet OL gratisan di ruang meeting fakultas.
Dan, Alhamdulillah banget, kami keluarga H. Awaluddin punya New Comer sejak dua hari yang lalu. Keluarga kami sudah bertambah lagi satu orang. Lahir dari rahim kakakku, Anti. Adek bayi yang baru lahir, seorang perempuan yang tembem dan kemerahan, montok pula. tanggal 13 Desember lalu. Tanggal yang cantik banget, 13/12/11, gimana..keren kaan??!!hehee...Beratnya juga normal, 3 kilo lebih.
.
Hari ini, NC pulang ke rumah setelah dua hari dirawat di tempat brojolnya..di RSIA Fatimah Makassar.
Aduuh,,,Nakke kangeennn banget sama NC ini....

Jumat, 09 Desember 2011

Bahagia dalam Tirai Hujan

Butiran-butiran kecil kristal berjatuhan,
menyapu raut wajah tak karuan,
ingin rasa menyemai kebahagiaan,
dalam bingkai bahtera kebersamaan,


Duhai dirimu,
tak kusangka kubertemu,
tiba-tiba saja ada di depanku,
dan akan selalu ada mendampingiku,

Masih saja butiran-butiran itu berjatuhan,
menyapu raut wajah dalam kebahagiaan,
ingin kuperlambat masa pertemuan,
agar kunikmati senyummu hingga buaian,

Yang kuingin pertalian tanpa ujung,
Antara dirimu dan diriku hingga masa ujung,
Naik tahta dan harta maupun dalam duka mengusung,
Insyaallah, diriku dan dirimu,di dunia dan di surga..........
(original poetry by Akbar Awaluddin Assaf)

*masih hujan dan dingin di kota Anging Mammiri, 10 Desember 2011 1.57am*

Kamis, 01 Desember 2011

Metabolisme Energi Para Atlet

Demam olahraga di Indonesia sudah sangat "mengkhawatirkan". Utamanya sepak bola. Demam untuk terus mendukung timnas sepak bola Indonesia di berbagai event, nasional maupun internasional sudah merambah segala umur, bahkan segala jenis kelamin *waah...memangnya ada berapa jenis kelamin di dunia ini?!hahaa..* Di setiap sudut di belahan bumi Indonesia selalu saja bergemuruh jika garuda-garuda berjuang mengalahkan lawan-lawannya dari arena ke arena, dari gelanggang ke gelanggang. Setelah SEA GAMES XVI yang dilangsungkan di dua kota di Indonesia, Jakarta dan Palembang, masyarakat Indonesia kembali disuguhkan dengan penampilan menawan dari timnas Indonesia Selection yang menjamu LA Galaxy, Rabu 30/11 tadi malam. "Ada harapang tawwa indonesa, gammariki mainna na lawang Becham", kata seorang warga Makassar yang menyaksikan pertandingan ini lewat layar kaca. Dan akhirnya Indonesia pun kalah 0-1 dari tim bule asal Amerika itu. Saya sendiri bisa dibilang selalu antusias saat menonton pertandingan demi pertandingan walau hanya di layar kaca. Dan saya pun bangga bisa termasuk FBI (Fans Berat Indonesia) dan mendukungnya, walau hanya doa dan kesetiaan menontonnya dari jauh.

Timnas Indonesia melakukan latihan. Latihan dan nutrisi dibutuhkan para atlet agar energi tubuhnya optimal saat bertanding.

Perjuangan para atlet olahraga kita, tentunya tidak lepas dari kemampuan fisik yang mumpuni untuk suatu pertandingan olahraga. Fisik yang terus menerus dilatih demi mendapatkan kemenangan pada suatu pertandingan olahraga telah menjadi perhatian saya sehingga muncul rasa penasaran dan pertanyaan tentang kondisi fisik para atlet dilihat dari fisiologinya. Sebagai seorang mahasiswa yang berkecimpung di dunia kesehatan, dalam hal ini Farmasi, maka saya pun mencari tahu tentang fisiologi para atlet, perbedaan fisik atlet pria maupun wanita, dan faktor-faktor penting dari fisik mereka yang perlu diperhatikan.

Setiap atlet memiliki kekuatan fisik yang sangat diperhatikan. Hal ini perlu untuk menunjang profesinya sebagai seorang atlet. Kekuatan fisik didapatkan dari berbagai macam latihan dan tentunya nutrisi yang selalu terjaga. Adapun fisik, tentunya latihan dititikberatkan pada kekuatan otot, kekuatan pernapasan, dan kekuatan jantungnya. Kita akan mencoba focus membahas mengenai bagian metabolisme energi pada otot.
Perbedaan Atlet Pria dan Wanita
Apakah kekuatan fisik atlet pria dan wanita memiliki perbedaan prinsip fisiologi dasar?  Pada buku fisiologi kedokteran yang dikarang oleh Guyton dan Hall, dikatakan bahwa sebenarnya, tidak ada perbedaan yang mendasar pada prinsip fisiologi atlet pria maupun wanita, kecuali perbedaan yang disebabkan oleh adanya perbedaan ukuran tubuh, komposisi tubuh, dan hormon pria yang dikenal dengan testosteron. Umumnya kekuatan tubuh dari wanita sekitar dua pertiga atau tiga perempat dari pria. Namun jika diukur berdasarkan tekanan kontraksi maksimum dari ototnya, wanita dan pria menghasilkan nilai yang hampir sama yaitu 3-4 kg/cm2.
Hormon juga merupakan suatu faktor penting yang membedakan kekuatan atlet pria dan wanita. Tentu saja atlet pria, yang memiliki testosteron, memiliki kekuatan yang lebih besar daripada wanita. Hal ini disebabkan oleh hormon tersebut, yaitu testosterone yang memiliki efek anabolik yang kuat dalam penyimpanan protein di setiap tempat pada tubuh, terutama otot. Hormon estrogen yang dihasilkan lebih banyak oleh wanita, memiliki sifat mampu meningkatkan penimbunan lemak pada jaringan-jaringan tertentu, khususnya pada payudara, paha, dan jaringan subkutan.
Otot memiliki kekuatan, daya, dan ketahanan
Dari buku Fisiologi berjudul Fisiologi Kedokteran oleh Guyton dan Hall, dikemukakan bahwa kekuatan otot bergantung pada besarnya kekuatan kontrasi yaitu antara 3 sampai 4 kg/cm2 dari daerah penampang melintang otot. Selanjutnya pada buku yang sama dikatakan bahwa daya kontraksi otot berbeda dari kekuatan otot, karena daya adalah ukuran dari jumlah total pekerjaan yang otot lakukan dalam suatu waktu. Oleh karena itu daya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot teteapi juga oleh jarak kotraksi dan berapa kali otot berkontraksi dalam tiap menit.  
Ketahanan otot, menjelaskan tentang bagaimana otot tersebut mampu bertahan dalam melakukan suatu aktivitas, dalam hal ini adalah saat atlet sedang latihan maupun saat bertanding sampai merasakan capek yang menyeluruh. Ketahanan otot ini sangat bergantung terhadap dukungan nutrisi otot. Nutrisi yang paling utama adalah kandungan glikogen yang dapat disimpan dalam otot sebelum latihan.  Glikogen yang diperlukan ini didapatkan dari karbohidrat yang diserap oleh tubuh. Sehingga, orang yang mengkonsumsi karbohidrat memiliki glikogen yang tersimpan dalam otot lebih banyak daripada orang yang mengkonsumsi banyak lemak.
Otot-otot para atlet sebenarnya memiliki metabolisme yang sama dengan orang normal lainnya, dimana energi yang didapatkan oleh otot bersumber dari ATP (Adenosin Triphospate) dan kontraksinya adalah hasil interaksi aktin dan miosinnya. Selain itu fosfokreatin juga merupakan sumber energy pada otot, namun fosfokreatin ini tidak dapat langsung dipakai oleh tubuh, tetapi hanya memberikan energinya kepada ADP (Adenosin Diphospate).

Struktur dasar ATP (Adenosin Triphospate)

ATP, memiliki ikatan fosfat (dengan symbol ~ )berenergi tinggi, dengan tiap ikatan fosfat menyimpan 7300 kalori energy per mol ATP di bawah kondisi standar. Sehingga jika satu fosfat radikal dipindahkan dari molekul, maka akan melepaskan energy 7300 kalori energy yang dapat digunakan pada proses kontraktilitas otot agar dapat bergerak. Kemudian pemindahan fosfat radikal kedua juga dilakukan dan mengeluarkan 7300 kalori energy lagi. Pindahnya fosfat radikal pertama, akan menyebabkan perubahan ATP menjadi ADP, dan pemindahan kedua kemudian mengubah ADP ini menjadi AMP (Adenosin monophospate)
ATP yang terdapat dalam otot, tidak dapat mencukupi energy yang dibutuhkan oleh atlet. Hal ini dikarenakan oleh jumlah ATP dalam otot hanya mdapat mempertahankan daya otot maksimal 3 detik, sehingga ATP harus terus menerus dibentuk. Olehnya itu, diperlukan energy dari sumber lain, yaitu energy dari fosfokreatin (kreatin fosfat).

Struktur dasar kreatinin fosfat (fosfokreatin)
Seperti halnya ATP, fosfokreatin (keratin fosfat) memiliki ikatan fosfat (dengan symbol ~ ) berenergi yang tinggi juga, yaitu sekitar 10.300 kalori per mol, sehingga sangat menunjang pelepeasan energy yang tinggi untuk digunakan otot dalam berkontraksi. Jumlahnya pun (kreatin fosfat) di dalam otot dua kali atau empat kali lebih banyak dibanding ATP.
Kedua penyedia energy di dalam otot ini, yaitu sel ATP dan sel fosfokreatin, bergabung dalam otot dan membentuk system yang disebut system fosfagen. System fosfagen inilah yang menyediakan energy untuk daya otot yang maksimal selama 8-10 detik, waktu yang cukup untuk lari 100 meter. System fosfagen ini diperlukan pada cabang-cabang olahraga yang membutuhkan tenaga otot yang maksimal namun dalam waktu yang singkat, seperti cabang lari cepat 100 meter, melompat, angkat berat, ataupun sepak bola.
Metabolisme ATP pada otot menurut Guyton dan Hall pada buku Fisiologi Kedokteran
Adanya pembentukan energy dari system glikogen-asam laktat juga menambah ketersediaan energy bagi sang atlet. Sistem pembentukan energy ini merupakan mekanisme glikolisis anaerob pada sel-sel otot. Glikogen yang disimpan oleh sel-sel otot dipecah menjadi glukosa (proses glikolisis) tanpa menggunakan oksigen. Selama terjadinya glikolisis, tiap-tiap glukosa akan dipecah menjadi dua molekul asam piruvat, dan energy dilepaskan menghasilkan empat molekul ATP. Asam piruvat yang terbentuk tadi masuk ke dalam mitokondria sel otot dan bereaksi dengan oksigen membentuk banyak molekul ATP. Asam piruvat ini akan diubah menjadi asam laktat, apabila oksigen yang tersedia cukup untuk melakukan proses oksidatif. Asam laktat ini kemudian keluar dari sel otot masuk ke cairan interstisial dan dalam darah. Jadi, dari pembentukan asam laktat ini akan diperoleh banyak energy yang terbentuk tanpa membutuhkan oksigen.

System glikogen-asam laktat ini membentuk energy dengan cepat walaupun tidak lebih cepat daripada pembentukan energy pada system fosfogen. Sehingga, system glikogen-asam laktat banyak digunakan untuk kontraksi otot dalam waktu singkat dan sedang. Bisa dikatakan bahwa energy yang terbentuk dari system ini dapat digunakan pada atlet-atlet yang membutuhkan energy dengan waktu yang cepat untuk pertandingan atau latihan berdurasi lumayan lama, seperti atlet lari cepat 400 meter, berenang 100 meter, tenis, dan sepak bola.

Sumber energy lain adalah dari system aerobik, di mana bahan makan an yang masuk ke dalam tubuh akan dioksidasi di dalam mitokondria untuk menghasilkan energy. Bahan-bahan makanan yang masuk, akan mengalami metabolism dan melepaskan sejumlah energy yang sangat besar dan digunakan untuk mengubah AMP dan ADP menjadi ATP. Energi yang dibentuk sangat lambat jika dibandingkan dengan energy yang dibentuk oleh fosfogen dan glikogen-asam laktat.

Dari sistem metabolisme inilah, ternyata, para atlet mendapatkan energi yang digunakan pada otot-otot mereka. Dan, tentu saja, latihan yang cukup dan teratur akan menambah lebih kekuatan yang mereka punya dan menambah ketangkasan mereka di setiap pertandingannya.

Majulah terus para Garuda Muda Indonesia....karena kalian selalu ada di dada kami!!!

*Ditulis masih dalam suasana euforia Timnas Garuda Indonesia*